Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

5 Cara Generasi Muda Jadi Motor Inovasi Industri Halal

Jumat, 25 September 2026 | September 25, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-25T01:21:51Z



ZONAHALAL.ID JAKARTA– Generasi muda memiliki peran strategis dalam mendorong inovasi dan memperkuat daya saing industri halal Indonesia. Kreativitas mahasiswa dan anak muda tidak hanya dibutuhkan untuk menghasilkan produk baru, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan pasar halal yang terus berkembang.


Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong generasi muda menjadi motor inovasi industri halal nasional agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing di pasar global.


Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin Emmy Suryandari menyampaikan hal tersebut dalam Kuliah Umum pada Industrial Festival 2026 di Tangerang, Banten, Kamis.


Menurut Emmy, kontribusi industri halal terhadap Industri Pengolahan Nonmigas mencapai 50,55 persen atau sekitar Rp1.102 triliun.


Sementara itu, ekspor produk industri halal Indonesia pada semester I 2026 mencapai sekitar 35,72 miliar dolar AS. Kontribusi terbesar berasal dari industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, kulit dan alas kaki, farmasi, serta perlengkapan dan peralatan rumah tangga.


Lantas, bagaimana generasi muda dapat mengambil peran sebagai motor inovasi industri halal?


1. Mengembangkan Riset dan Teknologi Halal


Generasi muda dapat berkontribusi melalui riset yang menjawab persoalan nyata dalam industri halal.


Kampus dapat menjadi ruang untuk mengembangkan penelitian, teknologi, maupun metode baru yang mendukung proses produksi halal. Riset tersebut dapat diarahkan pada bahan baku, proses produksi, keamanan pangan, teknologi pelacakan, hingga pengembangan produk halal.


Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga ikut menciptakan inovasi untuk memperkuat industri halal nasional.


2. Mengubah Ide Menjadi Prototipe dan Produk


Inovasi tidak harus selalu dimulai dari perusahaan besar. Mahasiswa dapat memulainya melalui proyek kampus, prototipe, produk sederhana, maupun usaha rintisan.


Emmy mendorong mahasiswa untuk mulai berkontribusi dari persoalan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.


“Masa depan industri Indonesia tidak cukup hanya kita tunggu. Masa depan itu harus kita bentuk bersama. Mahasiswa tidak harus menunggu suatu hari nanti untuk menjadi bagian dari perubahan. Mulailah dari kampus, dari bidang yang dikuasai, dan dari masalah yang paling dekat dengan kehidupan kita,” ujar Emmy.


Pesan tersebut menunjukkan bahwa inovasi halal dapat dimulai dari langkah sederhana yang kemudian dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.


3. Menjadikan Halal sebagai Nilai Tambah


Industri halal tidak cukup hanya berbicara mengenai sertifikasi. Produk halal juga perlu memiliki kualitas, keamanan, higienitas, inovasi, dan daya saing.


Emmy menekankan bahwa halal harus ditempatkan sebagai bagian dari nilai tambah dan strategi pengembangan produk.


“Halal bukan sekadar baseline compliance. Produk halal juga harus memberikan jaminan keamanan, higienitas, dan kualitas tinggi,” ungkapnya.


Menurut Emmy, halal dapat meningkatkan daya saing karena menjadi bagian dari value proposition dan branding produk di pasar internasional.


Karena itu, generasi muda perlu melihat halal bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan peluang untuk menciptakan produk yang memiliki keunggulan kompetitif.


4. Membangun Kolaborasi dan Ekosistem


Inovasi industri halal membutuhkan kolaborasi antara mahasiswa, perguruan tinggi, pemerintah, pelaku industri, lembaga riset, dan masyarakat.


Generasi muda dapat mengambil peran melalui proyek kolaboratif, inkubasi bisnis, penelitian bersama, maupun pengembangan produk dengan pelaku usaha.


Kolaborasi tersebut penting agar gagasan yang lahir di lingkungan kampus dapat diterapkan dan dikembangkan dalam dunia industri.


5. Berani Memulai dan Membaca Peluang Pasar Global


Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan industri halal. Selain pasar domestik yang besar, Indonesia juga memiliki basis industri yang kuat.


Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya menyampaikan bahwa estimasi konsumsi rumah tangga masyarakat Muslim pada semester I 2026 mencapai Rp5.974,9 triliun.


Menurut Agus, kekuatan industri halal Indonesia ditopang dua hal utama, yakni pasar domestik yang besar dan basis industri nasional yang telah berkembang.


Di sisi perdagangan, ekspor produk industri halal Indonesia mencapai sekitar 35,72 miliar dolar AS, sedangkan impornya sekitar 17,47 miliar dolar AS.


Besarnya pasar tersebut membuka peluang bagi generasi muda untuk menciptakan produk halal yang tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumen dalam negeri, tetapi juga mampu memasuki pasar global.


Karena itu, keberanian untuk memulai menjadi bagian penting dari perjalanan inovasi.


Kemenperin menilai Indonesia membutuhkan kreativitas, energi, gagasan, inovasi, karya, dan keberanian generasi muda untuk memperkuat industri nasional.


Dengan riset, prototipe, kualitas, kolaborasi, dan keberanian membaca peluang pasar, generasi muda dapat menjadi bagian penting dalam membangun industri halal Indonesia yang semakin inovatif, bernilai tambah, dan berdaya saing global.

×
Berita Terbaru Update