ZONAHALAL.ID SURABAYA — Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Timur didorong memperkuat rantai nilai halal secara terintegrasi agar pengembangan ekonomi syariah memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas bagi masyarakat.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berharap Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang kembali dipercaya sebagai Ketua Umum MES Jatim periode 2026–2031 dapat melanjutkan penguatan kolaborasi antarpelaku dalam ekosistem ekonomi syariah.
Hal tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri pelantikan Pengurus Wilayah dan Pengurus Daerah MES Jawa Timur di Surabaya, Minggu.
"Sebelumnya Pak Wagub juga menjadi Ketua Umum untuk periode 2022-2025, dan saya melihat langsung betapa dedikasi beliau sangat kuat untuk ekonomi syariah di Jawa Timur," kata Khofifah.
Menurut Khofifah, pengalaman Emil memimpin MES Jatim pada periode sebelumnya menjadi modal untuk memperkuat kolaborasi dan membangun ekosistem ekonomi syariah yang semakin terintegrasi.
Ia berharap kepemimpinan Emil periode 2026–2031 dapat menghubungkan kekuatan UMKM, industri halal, ekonomi pesantren dan sektor produktif lainnya ke dalam rantai nilai halal dari hulu hingga hilir.
"Dan perekonomian kita ini banyak ditopang oleh ekosistem halal, UMKM, dan produk pesantren, maka di Jawa Timur kita memang sedang mengusahakan halal value chain yang terintegrasi," ujarnya.
Berikut 5 cara MES Jatim memperkuat rantai nilai halal secara terintegrasi:
1. Menghubungkan UMKM dengan Ekosistem Halal
UMKM menjadi salah satu kekuatan penting dalam perekonomian Jawa Timur. Karena itu, penguatan rantai nilai halal perlu memastikan UMKM tidak hanya menjadi produsen, tetapi terhubung dengan berbagai bagian dalam ekosistem halal.
Kolaborasi dapat mencakup pendampingan usaha, sertifikasi halal, peningkatan kualitas produk, pembiayaan, distribusi hingga pemasaran.
Dengan keterhubungan tersebut, UMKM memiliki peluang lebih besar untuk naik kelas dan memperoleh manfaat dari pertumbuhan industri halal.
2. Memperkuat Industri Halal dari Hulu hingga Hilir
Rantai nilai halal tidak berhenti ketika sebuah produk mendapatkan sertifikat halal. Penguatan perlu dilanjutkan melalui proses produksi, pengelolaan bahan baku, distribusi, pemasaran hingga produk sampai kepada konsumen.
Karena itu, MES Jatim didorong memperkuat sinergi antara pelaku usaha, industri, lembaga keuangan, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
Pendekatan terintegrasi tersebut memungkinkan setiap mata rantai saling mendukung dan menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar.
3. Mengembangkan Ekonomi Pesantren sebagai Bagian dari Rantai Nilai
Khofifah juga menyoroti besarnya peran produk pesantren dalam menopang ekosistem ekonomi Jawa Timur.
Pesantren tidak hanya dapat berperan sebagai pusat pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, tetapi juga sebagai bagian dari rantai ekonomi halal melalui pengembangan usaha produktif.
Integrasi ekonomi pesantren dengan UMKM, industri halal, pembiayaan syariah dan pasar dapat membuka peluang peningkatan kapasitas usaha sekaligus memperluas manfaat ekonomi di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitar.
4. Memperkuat Pembiayaan dan Kualitas Usaha
Pengembangan ekonomi syariah membutuhkan dukungan pembiayaan dan peningkatan kualitas usaha. Karena itu, rantai nilai halal perlu menghubungkan pelaku usaha dengan sumber pembiayaan yang sesuai serta berbagai program peningkatan kapasitas.
Penguatan ini penting agar pelaku usaha tidak berhenti pada pemenuhan sertifikasi, tetapi mampu meningkatkan produktivitas, kualitas produk dan keberlanjutan usaha.
Dengan demikian, sertifikasi halal dapat menjadi bagian dari proses pengembangan bisnis yang lebih luas.
5. Memperluas Pasar dan Meningkatkan Manfaat Ekonomi
Rantai nilai halal yang terintegrasi pada akhirnya perlu bermuara pada perluasan pasar dan peningkatan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Khofifah berharap capaian Jawa Timur dalam pengembangan ekonomi syariah terus meningkat setelah daerah tersebut meraih juara pertama pada tiga kategori Anugerah Adinata Syariah 2026, yakni Pertumbuhan Pelaku Usaha Bersertifikasi Halal, Inovasi Ekonomi dan Keuangan Syariah, serta Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS).
"Kita harap capaian ini bisa terus meningkat, ekosistem syariah kita terus terbangun dan semakin membawa penyejahteraan untuk masyarakat," ujar Khofifah.
Penguatan halal value chain dengan demikian tidak hanya diarahkan untuk memperbanyak produk halal, tetapi juga membangun keterhubungan ekonomi dari hulu hingga hilir.
UMKM, industri halal, pesantren, lembaga keuangan dan pasar ditempatkan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Dengan model tersebut, pengembangan ekonomi syariah diharapkan mampu menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan usaha dan menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Jawa Timur.
Sebagai informasi, Emil Elestianto Dardak kembali dipercaya memimpin MES Jawa Timur periode 2026–2031 setelah sebelumnya menjabat pada periode 2022–2025. Emil dilantik bersama 85 pengurus wilayah oleh Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat MES sekaligus Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti.
