ZONAHALAL.ID PALEMBANG -- Bagi seorang Muslim, apa yang tersaji di atas meja makan bukan sekadar soal pemuas lapar atau pemenuhan nutrisi semata. Dalam Islam, makanan adalah instrumen spiritual yang menjadi penentu awal ketaatan seorang hamba kepada Sang Pencipta.
Hal ini menjadi benang merah dalam dialog "Mutiara Pagi" di PRO 1 RRI Palembang. Ustaz KH Turhamun, perwakilan Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Provinsi Sumatera Selatan, membedah secara mendalam manfaat besar di balik konsumsi makanan halal dan ancaman tersembunyi dari zat yang diharamkan.
Menjaga kehalalan asupan adalah prinsip fundamental yang tidak bisa ditawar. Ia menekankan bahwa status halal sebuah makanan adalah gerbang pertama bagi seseorang untuk mempersiapkan diri beribadah.
"Makanan halal menjadi penanda awal bagi seorang hamba dalam mempersiapkan diri untuk taat kepada Allah SWT," tegas Ustad Turhamun dikutip dari RRI, Senin (29/12/2025)
Namun, definisi halal ternyata jauh lebih luas dari sekadar jenis hewannya. Turhamun menjelaskan bahwa masyarakat harus jeli melihat tiga aspek utama: zatnya, cara memperolehnya, hingga proses pengolahannya. Sebuah makanan bisa saja secara zat bersifat halal, namun menjadi haram jika didapatkan dengan cara yang tidak benar atau disembelih tanpa mengikuti ketentuan syariat.
Dampak dari pilihan makanan ini pun sangat nyata bagi kehidupan batin. Konsumsi yang benar akan melahirkan ketenangan jiwa dan kebersihan hati. Sebaliknya, ada risiko besar yang mengintai mereka yang abai terhadap aturan ini.
"Makanan haram dapat membawa dampak negatif, baik secara spiritual maupun moral, karena dapat menghambat terkabulnya doa dan melemahkan keimanan seseorang," tambahnya.
Fenomena masyarakat yang tetap mengonsumsi makanan haram meski sudah mengetahui hukumnya juga sempat mencuat dalam sesi interaktif bersama pendengar. Menanggapi pertanyaan Aszahri, warga Sekayu, Turhamun menyoroti bahwa masalah ini berakar pada tiga hal utama: lemahnya iman, faktor kebiasaan, serta tarikan pengaruh lingkungan sekitar yang kuat.
Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan tidak lagi hanya mengejar rasa atau tren, tetapi mulai bijak memilah asupan demi menjaga kesehatan jasmani sekaligus memelihara ketakwaan dalam keseharian.
