Yuk Kenali 3 Pilar Utama Penyembelihan yang Halal dan Thayyib

Notification

×

Iklan

Iklan

Yuk Kenali 3 Pilar Utama Penyembelihan yang Halal dan Thayyib

Senin, 25 Mei 2026 | 12:26 WIB Last Updated 2026-05-25T05:26:12Z



ZONAHALAL.ID BOGOR -- Ibadah kurban tidak hanya soal penyembelihan, tetapi juga memastikan prinsip halalan thayyiban terpenuhi melalui pemilihan hewan sehat, penanganan daging yang higienis, dan distribusi pangan yang berkualitas bagi masyarakat.


Ibadah kurban tidak hanya menjadi momentum berbagi dan mempererat kepedulian sosial, tetapi juga harus memastikan prinsip halalan thayyiban terpenuhi dari hulu hingga hilir. Konsep ini tidak sekadar berbicara tentang halal secara syariat, tetapi juga memastikan daging yang dihasilkan aman, sehat, higienis, dan diproses dengan baik, termasuk dalam pengelolaan limbahnya.


Peneliti dan Trainer Halal Science Center (HSC) IPB University, Edit Lesa Aditia, M.Sc., menjelaskan bahwa pelaksanaan kurban yang ideal perlu memperhatikan tiga pilar utama, yakni pemilihan hewan sesuai syariat, perhitungan karkas yang akurat, serta penanganan daging yang higienis. Hal tersebut disampaikan dalam pelatihan penanganan dan penyembelihan hewan kurban yang diselenggarakan Halal Science Center (HSC) IPB University dan didukung LPPOM  di Kampus IPB Cilibende, Bogor.


1. Memilih Hewan Kurban yang Sehat dan Sesuai Syariat


Tahapan paling mendasar dalam ibadah kurban adalah memastikan hewan yang akan disembelih memenuhi syarat syariat dan berada dalam kondisi sehat. Banyak masyarakat masih beranggapan bahwa ukuran tubuh atau bobot hewan menjadi indikator utama kualitas kurban. Padahal, kualitas hewan tidak hanya ditentukan dari besar kecilnya ukuran fisik.


Menurut Aditia, kondisi kesehatan hewan, kepastian umur yang telah memenuhi syarat ditandai dengan pergantian gigi, serta perlakuan terhadap hewan sebelum disembelih sangat memengaruhi kualitas daging yang dihasilkan. Hewan yang mengalami stres, kelelahan, atau sakit sebelum disembelih berpotensi menghasilkan daging dengan kualitas yang menurun.


“Kondisi kesehatan, kepastian umur (sudah ganti gigi), serta bagaimana hewan tersebut diperlakukan sebelum disembelih sangat memengaruhi kualitas daging yang dihasilkan,” jelas Aditia dikutip dari Halal MUI, Senin (25/5/2026)


Stres pada hewan, apalagi dalam jangka panjang, dapat memicu pelepasan hormon  kortisol dan menghabiskan cadangan glikogen pada otot.  Sehingga menyebabkan daging cenderung menjadi lebih gelap, keras, dan terlihat kering  serta lebih cepat mengalami pembusukan. Oleh sebab itu, penerapan prinsip ihsan atau perlakuan baik terhadap hewan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kurban yang berkualitas.


Selain itu, pemilihan hewan sehat juga menjadi langkah penting dalam menjamin keamanan pangan bagi masyarakat penerima daging kurban. Hewan yang bebas penyakit akan menghasilkan daging yang lebih aman dikonsumsi dan memiliki kualitas gizi yang lebih baik.


2. Pentingnya Memahami Perhitungan Karkas


Selain pemilihan hewan, aspek lain yang tidak kalah penting adalah pemahaman mengenai perhitungan karkas. Pengetahuan ini sangat dibutuhkan panitia kurban agar distribusi daging dapat dilakukan secara tepat dan adil.


Karkas merupakan bagian tubuh hewan setelah disembelih, dikuliti, dipisahkan dari kepala, kaki, ekor, serta dikeluarkan isi jeroannya. Persentase karkas biasanya berkisar antara 45 hingga 55 persen dari bobot hidup hewan, tergantung jenis dan kondisi ternak.


Dengan memahami estimasi karkas secara tepat, panitia dapat memperkirakan jumlah daging murni yang akan diperoleh dan menentukan jumlah kantong distribusi secara lebih akurat. Hal ini penting untuk menghindari ketimpangan pembagian maupun kekurangan distribusi kepada masyarakat.


Perhitungan karkas juga membantu panitia dalam menyusun perencanaan logistik selama proses penyembelihan. Mulai dari kebutuhan tenaga kerja, wadah distribusi, hingga pengaturan waktu pemotongan dapat dipersiapkan lebih matang jika estimasi hasil karkas sudah diketahui sejak awal.


3. Penanganan Daging yang Higienis dan Ramah Lingkungan


Tahapan pasca penyembelihan menjadi aspek yang sering kali kurang mendapat perhatian. Padahal, kualitas daging sangat dipengaruhi oleh bagaimana proses pengulitan, pemotongan, hingga pengemasan dilakukan.


Aditia menekankan bahwa daging kurban segar sangat rentan terhadap kontaminasi bakteri. Oleh karena itu, proses penanganannya harus dilakukan secara higienis menggunakan peralatan yang bersih dan area kerja yang layak.


Selain menjaga kebersihan daging, pengelolaan limbah kurban juga menjadi perhatian penting. Limbah seperti darah, isi jeroan, maupun sisa pemotongan harus dikelola dengan baik agar tidak mencemari lingkungan dan menimbulkan bau tidak sedap di sekitar lokasi penyembelihan.


Penggunaan kemasan ramah lingkungan juga mulai menjadi bagian dari pelaksanaan kurban modern yang lebih berkelanjutan. Banyak panitia kurban kini mulai beralih dari kantong plastik sekali pakai menuju wadah alternatif seperti besek bambu atau kantong berbahan ramah lingkungan.


“Ibadah kurban memiliki manfaat kemanusiaan dan ramah lingkungan yang luas. Edukasi mengenai pemilihan hewan kurban, perhitungan karkas, hingga penanganan daging perlu terus diperkuat agar pelaksanaan kurban tidak hanya memenuhi syariat, tetapi juga menghasilkan distribusi pangan yang berkualitas, higienis, dan lebih berkelanjutan,” ungkap Aditia.


Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan ekosistem halal nasional, LPPOM membuka ruang diskusi bagi Rumah Potong Hewan/Unggas (RPHU) atau perusahaan yang belum memiliki sertifikasi halal melalui layanan Customer Care pada Call Center 14056 atau WhatsApp 0811-1148-696. Masyarakat juga dapat mengecek daftar RPH/U bersertifikat halal melalui website resmi BPJPH