ZONAHALAL.ID JAKARTA — Pariwisata halal Indonesia terus berkembang. Perubahannya tidak lagi sebatas penyediaan makanan dan minuman halal, tetapi mulai mencakup berbagai aspek perjalanan wisata, mulai dari destinasi, akomodasi, fasilitas ibadah, UMKM, layanan perjalanan, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Perkembangan tersebut semakin memperlihatkan bahwa pariwisata halal merupakan bagian dari ekosistem ekonomi halal yang melibatkan banyak sektor dan pelaku usaha.
Lantas, apa saja perkembangan pariwisata halal Indonesia?
1. Sertifikasi halal UMKM semakin terhubung dengan sektor pariwisata
UMKM menjadi bagian penting dalam rantai ekonomi pariwisata. Produk kuliner, oleh-oleh, katering, hingga berbagai produk yang dijual di destinasi wisata dapat menjadi bagian dari pengalaman wisatawan.
Karena itu, sertifikasi halal menjadi salah satu instrumen penting untuk memberikan kepastian mengenai kehalalan produk bagi konsumen Muslim.
BPJPH mencatat program sertifikasi halal bagi UMK desa wisata telah menjangkau puluhan ribu sertifikat. Perkembangan tersebut memperlihatkan semakin eratnya hubungan antara pemberdayaan UMKM, sertifikasi halal, dan pengembangan destinasi wisata.
Bagi pelaku UMKM, sertifikasi halal juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan konsumen sekaligus memperluas peluang pasar.
2. Desa wisata menjadi bagian penting pariwisata ramah Muslim
Pengembangan pariwisata halal semakin bergerak ke daerah dan desa.
Desa wisata memiliki kekayaan berupa alam, budaya, tradisi, kuliner, kerajinan, serta kehidupan masyarakat yang dapat menjadi daya tarik wisata.
Ketika berbagai potensi tersebut dipadukan dengan fasilitas yang ramah bagi wisatawan Muslim, desa wisata dapat menjadi bagian dari ekosistem pariwisata ramah Muslim.
Pengembangannya tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga bagaimana aktivitas pariwisata memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat.
3. Fasilitas ramah Muslim semakin diperhatikan
Kebutuhan wisatawan Muslim menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan destinasi.
Fasilitas seperti tempat ibadah, tempat wudu, informasi waktu salat, makanan halal, serta lingkungan wisata yang nyaman dapat membantu wisatawan menjalankan perjalanan tanpa meninggalkan kebutuhan ibadah.
Konsep ramah Muslim juga tidak berarti destinasi hanya diperuntukkan bagi wisatawan Muslim. Sebaliknya, berbagai fasilitas tersebut dapat menjadi bagian dari pelayanan wisata yang nyaman bagi masyarakat secara luas.
4. Kuliner halal semakin menjadi daya tarik destinasi
Kuliner merupakan salah satu bagian penting dalam pengalaman perjalanan.
Di berbagai destinasi, makanan lokal tidak hanya menjadi kebutuhan wisatawan, tetapi juga dapat menjadi daya tarik yang memperkuat identitas daerah.
Dalam konteks pariwisata halal, kejelasan status halal menjadi perhatian bagi wisatawan Muslim. Hal tersebut mendorong pelaku usaha kuliner di kawasan wisata untuk semakin memperhatikan bahan, proses produksi, fasilitas, serta pemenuhan ketentuan jaminan produk halal.
Dengan demikian, kuliner halal dapat berjalan beriringan dengan kekayaan kuliner lokal.
5. Digitalisasi memperkuat promosi dan layanan wisata halal
Teknologi digital turut mengubah cara wisatawan mencari informasi dan merencanakan perjalanan.
Informasi mengenai destinasi, hotel, restoran halal, tempat ibadah, transportasi, atraksi, hingga kegiatan wisata dapat diakses melalui berbagai platform digital.
Digitalisasi juga membuka ruang bagi UMKM dan pengelola desa wisata untuk memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas.
Ke depan, integrasi informasi digital dengan ekosistem pariwisata halal dapat membantu wisatawan menemukan layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka secara lebih mudah.
Pariwisata Halal Bukan Sekadar Label
Perkembangan pariwisata halal Indonesia menunjukkan adanya perubahan dari pendekatan yang berfokus pada produk menuju ekosistem yang lebih luas.
Sertifikasi halal UMKM, desa wisata, fasilitas ramah Muslim, kuliner halal, dan digitalisasi merupakan bagian yang saling berkaitan.
Pengembangan tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, UMKM, masyarakat, lembaga sertifikasi halal, pengelola destinasi, industri pariwisata, serta komunitas.
Pada akhirnya, pariwisata halal bukan hanya tentang bagaimana menyediakan produk halal bagi wisatawan Muslim. Lebih dari itu, pariwisata halal menyangkut bagaimana menghadirkan pengalaman perjalanan yang nyaman, aman, berkualitas, terpercaya, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Dari sertifikasi UMKM hingga desa wisata, perkembangan pariwisata halal menjadi bagian dari perjalanan Indonesia membangun ekosistem halal yang semakin terintegrasi. (AI)
