Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

7 Cara Membangun Rantai Pasok Halal ketika Pemasok Belum Siap

03 November 2026 | 23:58 WIB | 0 Views Last Updated 2026-11-04T01:01:41Z



ZONAHALAL.ID JAKARTA— Membangun rantai pasok halal tidak selalu berjalan mudah, terutama ketika pemasok atau supplier bahan baku belum memiliki sertifikat halal. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha yang ingin memastikan seluruh proses produksi memenuhi ketentuan jaminan produk halal.


Kesiapan pemasok menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kehalalan produk. Sebab, jaminan halal tidak hanya ditentukan oleh bahan utama, tetapi juga mencakup bahan tambahan, bahan penolong, proses penyimpanan, hingga distribusi.


Karena itu, pelaku usaha perlu menyiapkan strategi agar proses pemenuhan persyaratan halal tetap berjalan tanpa harus mengganggu kegiatan produksi.


Dilansir dari laman Halal MUI, Selasa (3/11/2026), berikut tujuh cara membangun rantai pasok halal ketika pemasok belum sepenuhnya siap.


1. Buat Daftar Bahan Baku secara Lengkap


Langkah pertama adalah mendata seluruh bahan yang digunakan dalam proses produksi, termasuk bahan tambahan dan bahan penolong yang jumlahnya relatif kecil.


Daftar tersebut perlu mencantumkan nama dagang, nama produsen, negara asal, serta identitas pemasok. Jangan mengabaikan bahan seperti perisa, pewarna, pengemulsi, minyak pelumas mesin yang berpotensi bersentuhan dengan produk, maupun cairan pembersih yang digunakan dalam proses produksi.


Pendataan ini menjadi dasar untuk menelusuri asal-usul bahan sekaligus menyiapkan dokumen persyaratan sertifikasi halal yang diperlukan dalam pengajuan melalui sistem SIHALAL.


2. Klasifikasikan Bahan Kritis dan Tidak Kritis


Setelah seluruh bahan terdata, pelaku usaha perlu mengelompokkannya berdasarkan tingkat kekritisan halal.


Bahan turunan hewani, hasil fermentasi, perisa, pengemulsi, gelatin, dan enzim umumnya memerlukan pemeriksaan lebih mendalam. Begitu pula bahan kemasan yang menggunakan pelapis tertentu.


Sementara itu, bahan nabati segar relatif lebih sederhana dalam penelusurannya. Meski demikian, bahan penolong yang digunakan selama proses pengolahan tetap perlu diperiksa.


Klasifikasi ini membantu perusahaan menentukan prioritas pemeriksaan. Dengan demikian, sumber daya dan waktu dapat difokuskan pada bahan-bahan yang memiliki potensi risiko terhadap kehalalan produk.


3 Minta Dokumen dan Verifikasi Keabsahannya


Pelaku usaha tidak cukup hanya meminta pemasok menunjukkan sertifikat halal. Dokumen tersebut perlu diperiksa untuk memastikan kesesuaian informasi dengan bahan yang benar-benar digunakan.


Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain kesesuaian nama bahan, identitas produsen, serta masa berlaku sertifikat halal. Informasi tersebut juga perlu dicocokkan dengan dokumen pembelian atau faktur.


Untuk bahan tertentu, perusahaan dapat meminta dokumen pendukung tambahan, seperti spesifikasi teknis dan diagram alir proses produksi dari produsen bahan.


Langkah verifikasi ini penting agar tidak terjadi ketidaksesuaian antara dokumen yang dimiliki perusahaan dan bahan yang digunakan dalam kegiatan produksi.


4. Bina Pemasok agar Siap Memenuhi Persyaratan Halal


Ketika pemasok belum memiliki sertifikat halal, pelaku usaha dapat mengambil peran dengan memberikan pendampingan.


Pembinaan dapat dimulai dengan menyampaikan daftar dokumen yang diperlukan, menjelaskan kewajiban regulasi, serta memberikan tenggat waktu yang realistis untuk memenuhi persyaratan.


Pemasok skala kecil yang belum pernah mengurus sertifikasi halal mungkin membutuhkan arahan teknis, mulai dari pembuatan akun SIHALAL hingga memahami tahapan pengajuan sertifikat halal.


Pendekatan kolaboratif ini penting karena sertifikasi halal tidak hanya memberikan manfaat bagi satu perusahaan. Jika pemasok berhasil memperoleh sertifikat halal, dokumen tersebut juga dapat mendukung pemenuhan kebutuhan sejumlah pelanggan lainnya.


5. Siapkan Pemasok Alternatif untuk Bahan Bermasalah


Apabila terdapat pemasok yang menolak memenuhi persyaratan atau membutuhkan waktu terlalu lama, perusahaan perlu menyiapkan pemasok alternatif.


Prioritaskan pemasok yang telah memiliki sertifikat halal dan mampu menyediakan bahan dengan spesifikasi sesuai kebutuhan produksi.


Namun, pergantian bahan tidak boleh dilakukan secara terburu-buru. Perusahaan perlu melakukan pengujian terlebih dahulu dalam skala kecil untuk memastikan bahan pengganti tidak mengubah kualitas produk.


Hal ini terutama penting untuk bahan seperti perisa dan pengemulsi yang dapat memengaruhi cita rasa, tekstur, serta umur simpan produk.


Dengan adanya pemasok cadangan, perusahaan dapat mengurangi ketergantungan pada satu sumber bahan sekaligus menjaga keberlangsungan rantai pasok halal.


6. Terapkan Daftar Bahan yang Telah Disetujui


Setelah melalui proses pemeriksaan dan verifikasi, perusahaan perlu menyusun daftar bahan yang telah disetujui untuk digunakan dalam produksi.


Daftar tersebut menjadi acuan bagi bagian pengadaan atau purchasing agar hanya membeli bahan dari pemasok dan produsen yang telah memenuhi persyaratan.


Perusahaan juga perlu memastikan setiap perubahan pemasok, produsen, atau spesifikasi bahan mendapatkan persetujuan sebelum digunakan.


Langkah ini penting untuk mencegah pembelian bahan secara mendadak tanpa pemeriksaan, terutama ketika persediaan mulai menipis atau permintaan produk meningkat menjelang hari raya.


7. Pantau Masa Berlaku Sertifikat dan Perubahan Bahan


Rantai pasok halal membutuhkan pengawasan berkelanjutan. Perusahaan perlu memantau masa berlaku sertifikat halal sekaligus memastikan tidak ada perubahan bahan, formula, maupun produsen yang luput dari pemeriksaan.


Pemasok sebaiknya diwajibkan memberikan pemberitahuan apabila terjadi perubahan komposisi, sumber bahan, atau proses produksi.


Selain itu, perusahaan perlu menjadwalkan evaluasi secara berkala untuk memastikan seluruh bahan tetap memenuhi persyaratan halal.


Pemantauan dan evaluasi tersebut merupakan bagian penting dalam penerapan Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH). Dengan demikian, rantai pasok halal bukan sekadar dibangun untuk memenuhi persyaratan sertifikasi, tetapi harus dipelihara secara konsisten.


Strategi Transisi Bahan Baku Halal tanpa Menghentikan Produksi


Salah satu pertanyaan yang kerap muncul dari pelaku usaha adalah apakah kegiatan produksi harus dihentikan sementara hingga seluruh pemasok siap memenuhi persyaratan halal.


Pada praktiknya, perusahaan dapat menyusun strategi transisi secara bertahap dengan tetap memperhatikan ketentuan sertifikasi halal dan penerapan SJPH.


Pertama, prioritaskan produk dengan komposisi bahan yang lebih sederhana dan seluruh dokumen pendukungnya telah memenuhi persyaratan. Produk dengan bahan yang masih bermasalah perlu ditangani melalui proses pemeriksaan dan penggantian bahan sebelum diajukan dalam proses sertifikasi.


Pendekatan bertahap ini membantu perusahaan memetakan kesiapan setiap produk sekaligus mengidentifikasi bagian rantai pasok yang masih membutuhkan pembenahan.


Kedua, lakukan pemisahan terhadap persediaan bahan yang belum memiliki dokumen pendukung memadai. Bahan tersebut perlu diidentifikasi, diberi label, dan ditempatkan secara terpisah sesuai prosedur pengendalian bahan perusahaan. Tujuannya untuk mencegah pencampuran dengan bahan yang telah diverifikasi dan memenuhi persyaratan halal.


Ketiga, perhitungkan biaya dan risiko secara menyeluruh. Bahan baku yang telah memenuhi persyaratan halal terkadang memiliki harga sedikit lebih tinggi. Namun, perusahaan perlu mempertimbangkan biaya tersebut dibandingkan dengan risiko ketidakpatuhan terhadap ketentuan jaminan produk halal.


Peraturan BPJPH Nomor 2 Tahun 2026 mengatur sejumlah sanksi administratif bagi pelanggaran ketentuan jaminan produk halal. Sanksi tersebut mencakup teguran tertulis, denda administratif, pencabutan sertifikat halal, hingga penarikan produk dari peredaran.


Karena itu, membangun rantai pasok halal sebaiknya tidak dipandang sebagai beban tambahan bagi perusahaan. Sebaliknya, langkah tersebut merupakan investasi untuk menjaga kepatuhan regulasi, kualitas produk, dan kepercayaan konsumen.


Pada akhirnya, kesiapan rantai pasok halal tidak hanya bergantung pada perusahaan sebagai produsen, tetapi juga membutuhkan komitmen dan kolaborasi seluruh pemasok. Dengan pendataan, verifikasi, pembinaan, serta pengawasan yang konsisten, pelaku usaha dapat membangun ekosistem rantai pasok halal yang lebih kuat dan berkelanjutan.

×
Berita Terbaru Update