ZONA HALAL – Bagi Generasi Z, kehidupan sehari-hari hampir tidak bisa dipisahkan dari dunia digital. Mencari makanan viral, membeli skincare, mengikuti tren fesyen, bertransaksi secara online hingga membagikan aktivitas di media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian.
Di tengah perubahan tersebut, gaya hidup halal semakin relevan. Halal tidak hanya berbicara tentang makanan dan minuman, tetapi juga menyangkut produk yang digunakan, cara bertransaksi, perilaku di ruang digital, hingga pilihan dalam mendukung pelaku usaha.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2025 terhadap 100 responden Gen Z di Kabupaten Bone menunjukkan bahwa halal lifestyle memiliki pengaruh signifikan terhadap minat membeli produk berlabel halal di platform e-commerce. Temuan ini menunjukkan bahwa kesadaran halal dapat ikut membentuk perilaku konsumsi generasi muda di ruang digital.
Terlebih lagi, Indonesia memasuki tahapan penting dalam ekosistem jaminan produk halal. Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menyatakan bahwa mulai 18 Oktober 2026, kewajiban sertifikasi halal diperluas ke berbagai kategori produk, termasuk makanan dan minuman, kosmetik, obat bahan alam, obat kuasi, suplemen kesehatan, serta sejumlah barang gunaan.
Lantas, bagaimana Gen Z dapat menerapkan gaya hidup halal?
1. Pilih Kuliner yang Jelas Kehalalannya
Kuliner menjadi salah satu bagian paling dekat dengan kehidupan Gen Z. Berbagai makanan dan minuman baru bermunculan melalui media sosial dan platform pesan-antar.
Namun, jangan hanya memilih karena makanan tersebut sedang viral.
Biasakan memperhatikan bahan, proses pengolahan, serta informasi mengenai status kehalalan produk. Ketika tersedia, konsumen dapat mengecek sertifikasi halal sebagai salah satu pertimbangan sebelum membeli.
Kebiasaan sederhana ini menjadi semakin penting karena pemerintah telah menetapkan tahapan kewajiban sertifikasi halal bagi produk makanan dan minuman, termasuk produk UMK, mulai 18 Oktober 2026.
Dengan demikian, Gen Z bukan hanya konsumen yang mengikuti tren, tetapi juga konsumen yang sadar terhadap apa yang dikonsumsi.
2. Cermat Memilih Skincare, Kosmetik, dan Fesyen
Tren skincare, kosmetik, fesyen, parfum hingga berbagai aksesori sangat dekat dengan kehidupan Gen Z.
Karena itu, prinsip halal juga dapat diterapkan ketika memilih produk-produk tersebut. Jangan hanya tergoda oleh kemasan, harga, viralitas, atau rekomendasi influencer.
Perhatikan informasi produk dan status sertifikasinya. Hal ini semakin relevan karena BPJPH menyatakan bahwa produk kosmetik termasuk kategori yang memasuki kewajiban sertifikasi halal setelah 17 Oktober 2026.
Artinya, literasi halal tidak cukup hanya dimiliki oleh pelaku usaha. Konsumen muda juga perlu memahami produk yang mereka gunakan setiap hari. Teliti sebelum membeli, jangan sampai tren mengalahkan prinsip.
3. Bijak Bermedia Sosial
Halal bukan hanya tentang apa yang masuk ke dalam tubuh, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menggunakan jari, pikiran, dan perkataannya.
Gen Z hidup di tengah budaya like, share, comment, repost, dan viral. Satu unggahan dapat menyebar kepada ribuan bahkan jutaan orang dalam waktu singkat.
Karena itu, biasakan berpikir sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu. Hindari hoaks, fitnah, penghinaan, perundungan, ujaran kebencian, maupun konten yang dapat merugikan orang lain.
Media sosial seharusnya tidak hanya menjadi tempat mengejar popularitas, tetapi juga ruang untuk berbagi ilmu, membangun jejaring, mempromosikan usaha, dan menyebarkan kebaikan.
Jari juga perlu memiliki etika.
Inilah salah satu bentuk gaya hidup halal yang sering terlupakan: menjaga apa yang keluar dari tangan, lisan, dan akun media sosial.
4. Gunakan Uang dan Layanan Digital secara Bertanggung Jawab
Gen Z memiliki akses yang semakin mudah terhadap berbagai layanan keuangan digital. Belanja online, dompet digital, investasi, hingga layanan pembiayaan dapat dilakukan hanya melalui telepon pintar.
Kemudahan tersebut perlu diikuti dengan literasi.
Sebelum menggunakan layanan keuangan, pahami mekanisme transaksi, akad, biaya, denda, serta ketentuan yang berlaku. Jika ingin menerapkan prinsip keuangan syariah, pilih layanan yang jelas mekanismenya dan sesuai dengan prinsip syariah.
Gaya hidup halal bukan berarti menolak teknologi.
Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana untuk memudahkan kehidupan selama digunakan secara bijak, transparan, dan bertanggung jawab.
Jangan sampai kemudahan checkout membuat Gen Z kehilangan kendali atas kebutuhan dan keinginan.
5. Dukung Ekosistem Halal melalui Pilihan Sehari-hari
Menjadi konsumen halal tidak berhenti pada memastikan produk yang dibeli sesuai prinsip halal.
Gen Z juga dapat ikut memperkuat ekosistem halal dengan mendukung pelaku usaha yang memiliki komitmen terhadap kehalalan, transparansi, dan kualitas produknya.
Ketika membeli makanan, kosmetik, fesyen, atau produk lainnya, pilihan konsumen dapat ikut mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas dan memenuhi ketentuan sertifikasi halal.
Di sinilah Gen Z memiliki posisi strategis.
Mereka bukan sekadar konsumen, tetapi juga dapat menjadi penggerak ekosistem halal melalui keputusan-keputusan kecil setiap hari.
Apalagi, perluasan kewajiban sertifikasi halal pada Oktober 2026 mencakup berbagai sektor, sehingga kesadaran konsumen terhadap halal akan semakin penting.
Halal Bukan Sekadar Tren Gen Z
Gaya hidup halal pada akhirnya bukan tentang membatasi Gen Z dari perkembangan zaman.
Justru sebaliknya, nilai halal dapat menjadi kompas agar generasi muda tetap mampu menikmati perkembangan teknologi, kuliner, fesyen, kecantikan, dan ekonomi digital tanpa kehilangan prinsip.
Mulai dari memilih makanan, menggunakan skincare dan kosmetik, membeli fesyen, bermedia sosial, mengelola uang, hingga mendukung UMKM halal, semuanya dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik.
Halal juga tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Mulailah dari apa yang dikonsumsi, apa yang digunakan, apa yang dibagikan, bagaimana bertransaksi, dan bagaimana memperlakukan orang lain.
Sebab, halal bukan sekadar label pada sebuah produk. Halal adalah pilihan, kebiasaan, dan tanggung jawab yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. (AI)
