Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

5 Cara Jateng Bangun Ekosistem Industri Halal untuk Gaet Investor

Jumat, 02 Oktober 2026 | Oktober 02, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-03T10:58:25Z




ZONAHALA.ID JATENG – Jawa Tengah tengah menyiapkan ekosistem industri halal yang tidak hanya ditujukan untuk memperkuat ekonomi syariah, tetapi juga membuka ruang investasi baru dari hulu hingga hilir. Kawasan industri halal, pariwisata ramah Muslim, kuliner, ekspor, dan talenta muda disiapkan sebagai satu ekosistem yang dapat menghubungkan lokasi usaha, rantai pasok, pasar, sumber daya manusia, hingga akses ekspor.


Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan penguatan ekosistem ekonomi syariah perlu dilakukan secara bersama-sama, termasuk melalui sektor pariwisata dan kuliner yang ramah bagi wisatawan Muslim.


Hal tersebut disampaikan Taj Yasin di Semarang, Jawa Tengah, Jumat, di sela acara Sharia Economic Leaders Forum (SELF) Jateng 2026 yang digelar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).


Menurut Taj Yasin, pembentukan kawasan industri halal saat ini masih dibahas bersama MES, Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS), serta para pegiat ekonomi syariah.


Pembahasan lintas pihak tersebut penting karena investor membutuhkan lebih dari sekadar lokasi usaha. Mereka membutuhkan ekosistem yang mampu menghubungkan produksi, bahan baku, tenaga kerja, pasar, logistik hingga akses ekspor.


Berikut 5 cara Jawa Tengah membangun ekosistem industri halal untuk menarik investor:


1. Kawasan Industri Halal sebagai Titik Masuk Investor


Rencana pembentukan kawasan industri halal menjadi salah satu fondasi utama untuk menarik investasi.


Kawasan ini dapat diarahkan sebagai pusat investasi bagi industri halal dari dalam maupun luar Jawa Tengah. Investor tidak hanya ditawarkan lokasi usaha, tetapi juga ekosistem pendukung yang memudahkan proses produksi dan pengembangan bisnis.


Karena itu, keterlibatan MES, KDEKS, pemerintah daerah, pelaku industri dan masyarakat menjadi penting dalam merancang kawasan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan investor.


Targetnya bukan sekadar membangun kawasan, tetapi menciptakan ekosistem industri yang membuat Jawa Tengah memiliki daya tarik sebagai basis pengembangan usaha halal.


2. Pariwisata Ramah Muslim sebagai Pasar Investasi


Jawa Tengah juga memiliki peluang investasi melalui pengembangan pariwisata ramah Muslim.


Taj Yasin mengatakan Jawa Tengah telah mendapatkan apresiasi wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara, terhadap layanan yang ramah bagi wisatawan Muslim.


Potensi tersebut dapat diterjemahkan menjadi peluang investasi pada hotel dan akomodasi ramah Muslim, destinasi wisata, restoran halal, layanan perjalanan, pusat oleh-oleh hingga ekonomi kreatif.


Pengembangan pariwisata ramah Muslim yang berkelanjutan juga akan menjadi bagian dari arah pembangunan Jawa Tengah pada 2027.


Dengan berkembangnya sektor ini, pariwisata dapat menjadi salah satu penggerak permintaan bagi produk dan layanan halal sekaligus memperluas ruang usaha bagi investor.


3. Kuliner Halal Memperluas Rantai Nilai


Kuliner halal memiliki hubungan langsung dengan industri, UMKM, pertanian, peternakan, distribusi dan pariwisata.


Karena itu, pengembangan kuliner halal dapat menciptakan rantai nilai yang lebih luas. Peluang usaha tidak hanya terdapat pada makanan dan minuman, tetapi juga penyediaan bahan baku, pengolahan, pengemasan, distribusi, teknologi pangan hingga jaringan ritel.


Ekosistem tersebut juga membuka ruang kemitraan antara investor dengan UMKM lokal sehingga investasi dapat terhubung dengan basis ekonomi daerah.


Semakin kuat keterhubungan antarsektor, semakin besar pula peluang terbentuknya rantai industri halal dari hulu hingga hilir.


 4. Ekspor Membuka Pasar Lebih Luas


Ketua Umum MES Jateng Rezza Arief Budy Artha mengatakan kepengurusan MES periode 2026-2031 ingin mengambil peran lebih besar dalam pembangunan ekonomi Jawa Tengah, salah satunya melalui penguatan ekspor.


Karena itu, koperasi ekspor menjadi salah satu agenda yang diangkat dalam SELF Jateng 2026, seiring tema ekonomi syariah yang inklusif, progresif, dan inovatif.


Penguatan ekspor menjadi bagian penting karena industri yang berkembang membutuhkan akses pasar yang lebih luas. Jawa Tengah dapat diarahkan bukan hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai basis produksi untuk memenuhi permintaan dari luar daerah dan pasar internasional.


Rezza mengatakan kolaborasi akan dibuka seluas-luasnya dengan berbagai kelompok masyarakat untuk memperkuat kontribusi ekonomi syariah terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.


"Jadi, semua masyarakat Jawa Tengah, siapa pun Anda, apa pun latar belakangnya, mari sama-sama berkolaborasi mengembangkan ekonomi di Jawa Tengah," katanya.


5. Talenta Muda Menjadi Modal Pertumbuhan


Pengembangan industri juga membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menjalankan dan mengembangkan bisnis.


Taj Yasin menilai potensi anak muda dengan pengalaman di bidang industri, ekspor-impor, perekonomian hingga fesyen dapat menjadi tenaga baru dalam pengembangan ekonomi syariah.


Ia berharap kepengurusan baru MES Jateng dapat memperkuat sinergi dengan pemerintah.


"Tenaga baru ini harus benar-benar menambah sinergi antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan masyarakat ekonomi syariah yang sudah terbangun dengan baik ini," katanya.


Rezza juga menilai keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam pengembangan ekonomi syariah. Menurut dia, generasi muda Jawa Tengah memiliki potensi untuk ikut memperbesar kontribusi sektor tersebut terhadap perekonomian daerah.


Manfaat Konkret bagi Investor


Jika kelima ekosistem tersebut dikembangkan secara terintegrasi, Jawa Tengah memiliki peluang menawarkan basis produksi, rantai pasok, pasar, akses ekspor, kemitraan dengan pelaku usaha lokal, serta sumber daya manusia kepada investor.


Namun, daya tarik investasi tidak cukup dibangun melalui potensi sektor. Pengembangan ekosistem perlu diikuti kepastian regulasi, kemudahan perizinan, kesiapan infrastruktur, kepastian rantai pasok, layanan investasi yang responsif, dan akses pasar yang jelas.


Faktor tersebut menjadi penting agar investor dapat melihat bagaimana investasi dapat dijalankan, dikembangkan, dan terhubung dengan ekosistem ekonomi Jawa Tengah.


Dari Potensi Menjadi Daya Tarik Investasi


Lima ekosistem tersebut—kawasan industri halal, pariwisata ramah Muslim, kuliner, ekspor, dan talenta—dapat menjadi fondasi daya tarik investasi Jawa Tengah.


Kuncinya adalah mengubah potensi menjadi ekosistem yang siap ditawarkan: **lokasi usaha, rantai pasok, pasar, sumber daya manusia, kemitraan, dan akses ekspor** dalam satu jaringan bisnis halal.


Dengan sinergi pemerintah, MES, KDEKS, pelaku usaha, koperasi dan investor, Jawa Tengah berpeluang membangun ekosistem industri halal yang produktif, terintegrasi, dan menarik bagi investasi.

×
Berita Terbaru Update