Saatnya Terapkan Gaya Hidup Halal

Notification

×

Iklan

Iklan

Saatnya Terapkan Gaya Hidup Halal

Rabu, 04 Maret 2026 | 06:03 WIB Last Updated 2026-03-03T23:03:00Z




ZONAHALAL.ID MAKASSAR -- Program UMKM Bicara di PRO1 RRI Makassar mengangkat tema “Meneguhkan Kesucian Ramadhan Dengan Komitmen Halal Lifestyle”. Dipandu oleh Risna Supratio, dialog yang menghadirkan narasumber Dr. Waspada Santing, M.Sos.I., M.H.I., selaku Ketua Pusjilal Indonesia sekaligus Ketua Pusat Studi Halal Thayyib UNIBOS, membahas pentingnya gaya hidup halal sebagai bagian dari upaya menjaga nilai spiritual di bulan suci.


Dalam pemaparannya secara daring, Dr. Waspada menegaskan bahwa Ramadhan bukan hanya momentum meningkatkan ibadah ritual, tetapi juga saat yang tepat memperkuat komitmen terhadap konsumsi dan aktivitas yang halal serta thayyib. “Halal lifestyle bukan sekadar tren, melainkan bentuk ketaatan menyeluruh kepada Allah SWT, mulai dari makanan, minuman, transaksi, hingga cara bermuamalah,” ujar Waspada dikutip dari RRI, Rabu (4/3/2026).


Konsep halal tidak hanya menyentuh aspek hukum agama, tetapi juga menyangkut dimensi kebersihan, kesehatan, dan keberkahan. Menurutnya, kesucian Ramadhan dapat terjaga ketika umat Islam konsisten memastikan apa yang dikonsumsi dan diusahakan benar-benar halal dan baik. “Ramadhan melatih kita menahan diri. Maka setelah menahan lapar dan dahaga, jangan sampai yang kita konsumsi justru meragukan kehalalannya,” tegasnya.


Sebagai Ketua Pusat Studi Halal Thayyib di Universitas Bosowa, ia juga menyoroti peran perguruan tinggi dalam mengedukasi pelaku UMKM agar memahami pentingnya sertifikasi halal. Edukasi ini dinilai krusial karena kesadaran konsumen terhadap produk halal terus meningkat, terutama menjelang dan selama Ramadhan. Ia menyebut, literasi halal harus menjadi gerakan bersama antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah.


Dalam konteks pemberdayaan UMKM, Dr. Waspada menilai penerapan halal lifestyle dapat menjadi peluang ekonomi yang besar. Produk yang telah terjamin kehalalannya memiliki daya saing lebih tinggi, baik di pasar lokal maupun nasional. “Komitmen halal bukan beban bagi pelaku usaha, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun kepercayaan konsumen,” jelasnya.


Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa gaya hidup halal juga mencakup etika bisnis yang jujur dan transparan. Baginya, menjaga kesucian Ramadhan berarti memastikan tidak ada praktik kecurangan, manipulasi harga, atau eksploitasi dalam aktivitas ekonomi. “Kesalehan spiritual harus selaras dengan kesalehan sosial. Jangan sampai ibadah meningkat, tetapi integritas menurun,” ungkapnya.


Menutup perbincangan, Dr. Waspada mengajak masyarakat menjadikan Ramadhan sebagai titik awal transformasi menuju gaya hidup halal yang berkelanjutan. “Mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri secara total, tidak hanya dalam ibadah mahdhah, tetapi juga dalam pola konsumsi dan bisnis. Dengan begitu, kesucian Ramadhan benar-benar tercermin dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.