Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

5 Cara Perkuat Kompetensi Juru Sembelih Halal di Rumah Potong Hewan, Bukan Sekadar Bisa Menyembelih

Rabu, 23 September 2026 | September 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-23T01:50:38Z



ZONAHALAL.ID TANGERANG— Kepastian halal pangan yang dikonsumsi masyarakat turut ditentukan oleh kompetensi Juru Sembelih Halal (Juleha). Karena itu, penguatan kompetensi Juleha menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem halal, khususnya pada proses penyembelihan hewan di Rumah Potong Hewan (RPH) dan Rumah Potong Unggas (RPU).


Pusbangkom SDM Pendidikan dan Keagamaan Kementerian Agama (Kemenag) membekali 30 Juleha dengan kompetensi penyembelihan halal melalui Pelatihan Terintegrasi Sertifikasi Juru Sembelih Halal.


Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama, Muhammad Ali Ramdhani, menyampaikan hal tersebut saat membuka pelatihan di Pusbangkom SDM Pendidikan dan Keagamaan, Ciputat, Tangerang Selatan, Senin (21/9/2026).


Menurut Kaban Dhani, sapaan akrab Muhammad Ali Ramdhani, profesi Juleha tidak berhenti pada keterampilan teknis menyembelih hewan. Juleha juga memiliki tanggung jawab keagamaan dan sosial karena proses penyembelihan menjadi salah satu tahapan penting dalam memastikan makanan yang dikonsumsi umat berada dalam koridor halal.


“Juru sembelih adalah orang yang membangun peradaban. Apa yang dilakukan berkaitan dengan sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan umat, yaitu memastikan makanan yang dikonsumsi berada dalam koridor halal,” ujarnya.


Lantas, bagaimana cara memperkuat kompetensi Juleha agar tidak sekadar bisa menyembelih?


1. Perkuat Pemahaman Fikih Penyembelihan


Kompetensi Juleha perlu dimulai dari pemahaman fikih penyembelihan yang memadai.


Juleha perlu memahami ketentuan mengenai penyembelih, hewan yang disembelih, alat yang digunakan, tata cara penyembelihan, hingga kondisi hewan setelah proses penyembelihan.


Pemahaman tersebut menjadi landasan agar keterampilan teknis yang dimiliki tetap berada dalam koridor syariat.


Kaban Dhani menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menjalankan profesi Juleha. Menurutnya, proses penyembelihan merupakan bagian dari pemenuhan kewajiban umat yang membutuhkan pemahaman fikih sekaligus kompetensi praktik.


“Penyembelihan halal ini betul-betul menjadi sandaran kehidupan umat Muslim. Karena itu, kompetensi dan kehati-hatian dalam menjalankan tugas ini menjadi landasan penting agar amanah tersebut dapat dipertanggungjawabkan kepada umat,” katanya.


Ia juga mengingatkan peserta agar berpegang pada pemahaman fikih yang aman dan berhati-hati ketika menghadapi perbedaan pendapat atau ikhtilaf, khususnya dalam praktik penyembelihan.


“Saya berharap bapak-bapak berpegang pada pemahaman fikih yang aman dalam menjalankan tugas sebagai juru sembelih halal. Kehati-hatian ini penting karena proses penyembelihan berkaitan langsung dengan kehalalan pangan yang dikonsumsi masyarakat,” tegasnya.


2. Tingkatkan Keterampilan Teknis Menyembelih


Pemahaman teori harus berjalan beriringan dengan keterampilan praktik.


Juleha perlu menguasai teknik penyembelihan sesuai ketentuan, termasuk penggunaan alat, penanganan hewan, posisi penyembelihan, serta tahapan setelah hewan disembelih.


Pelatihan praktik menjadi penting agar kemampuan Juleha tidak hanya diperoleh dari pengalaman, tetapi juga melalui proses pembelajaran yang terukur.


Keterampilan teknis yang baik dapat membantu mengurangi risiko kesalahan selama proses penyembelihan sekaligus mendukung konsistensi penerapan standar halal di RPH maupun RPU.


3. Pahami Kesehatan dan Kesejahteraan Hewan


Kompetensi Juleha juga mencakup pemahaman terhadap kondisi kesehatan dan kesejahteraan hewan.


Hewan yang akan disembelih perlu ditangani secara baik sebelum proses penyembelihan. Penanganan yang tepat dapat membantu mengurangi stres, cedera, dan perlakuan yang tidak diperlukan terhadap hewan.


Karena itu, penguatan kompetensi Juleha perlu berjalan bersama pengetahuan mengenai kesehatan dan kesejahteraan hewan.


Kolaborasi antara Juleha, pengelola RPH atau RPU, tenaga kesehatan hewan, serta pihak terkait diperlukan agar proses penyembelihan berlangsung sesuai ketentuan.


4. Terapkan Higiene, Sanitasi, dan Keamanan Pangan


Kehalalan pangan perlu berjalan beriringan dengan kebersihan dan keamanan pangan.


Juleha perlu memahami pentingnya kebersihan diri, kebersihan peralatan, sanitasi tempat penyembelihan, hingga pencegahan kontaminasi selama proses penanganan hewan dan daging.


Peralatan dan lingkungan kerja juga perlu dijaga agar proses penyembelihan serta penanganan daging berlangsung secara higienis.


Dengan demikian, kompetensi Juleha tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyembelih, tetapi juga memahami prosedur yang mendukung terjaganya kualitas dan keamanan produk hewani.


5. Perkuat Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi


Kompetensi Juleha perlu diperkuat secara berkelanjutan melalui pelatihan, pembinaan, dan sertifikasi.


Pelatihan yang digelar Pusbangkom SDM Pendidikan dan Keagamaan Kemenag tersebut diikuti 30 peserta dari unsur RPH, RPU, serta pengelola masjid.


Para peserta dipersiapkan menjalankan tugas sebagai Juleha, termasuk dalam penyembelihan hewan untuk kurban, akikah, dan kegiatan keagamaan lainnya.


Kegiatan tersebut merupakan hasil kerja sama Pusbangkom SDM Pendidikan dan Keagamaan dengan Halal Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan dukungan Bank Indonesia melalui Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah.


Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta dijadwalkan mengikuti uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat profesi Juleha dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).


Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kompetensi peserta, tetapi juga membuka ruang kontribusi lebih luas bagi Juleha dalam pengembangan ekosistem ekonomi dan industri halal.


Juleha, Mata Rantai Penting Ekosistem Halal


Kehalalan produk hewani tidak dimulai ketika daging sudah berada di pasar atau meja makan. Prosesnya dimulai sejak hewan ditangani hingga penyembelihan dilakukan sesuai ketentuan.


Di sinilah Juleha memiliki posisi strategis.


Juleha bukan sekadar profesi yang membutuhkan kemampuan teknis menyembelih. Di dalamnya terdapat tanggung jawab keagamaan, sosial, dan profesional untuk memastikan salah satu tahapan penting dalam penyediaan pangan bagi masyarakat berlangsung sesuai ketentuan halal.


Karena itu, kompetensi Juleha perlu dibangun secara menyeluruh melalui **pemahaman fikih, keterampilan teknis, pengetahuan kesehatan dan kesejahteraan hewan, penerapan higiene dan sanitasi, serta pelatihan dan sertifikasi kompetensi**.


Semakin kuat kompetensi Juleha, semakin kuat pula salah satu mata rantai dalam jaminan halal produk hewani.


Pada akhirnya, memastikan makanan halal bukan hanya persoalan label pada produk, tetapi juga tentang bagaimana setiap proses di belakangnya dilakukan dengan pengetahuan, keterampilan, kehati-hatian, dan tanggung jawab.

×
Berita Terbaru Update