Gaya Hidup Halal 2026: Dari E-Commerce hingga Beauty Tech Berbasis AI

Notification

×

Iklan

Iklan

Gaya Hidup Halal 2026: Dari E-Commerce hingga Beauty Tech Berbasis AI

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:05 WIB Last Updated 2026-02-25T05:05:48Z



 ZONAHALAL.ID JAKARTA -- Meningkatnya gaya hidup halal yang meluas melampaui makanan hingga mencakup berbagai produk dan layanan, termasuk kosmetik, farmasi, fesyen, dan pariwisata akan menjadi tren halal Indonesia di tahun 2026.

Pendekatan holistik tersebut, yang sering disebut sebagai “gaya hidup halal”, menyiratkan tuntutan konsumen mencari produk yang tidak hanya diperbolehkan tetapi juga bermanfaat, bersih, sehat (halalan thayiban), dan diproduksi secara bertanggung jawab.


Tren yang bakal terjadi adalah transformasi digital dan e-commerce. Pasar e-commerce halal sedang mengalami peningkatan pesat, yang diproyeksikan akan mencapai tingkat yang jauh lebih tinggi. 


Platform digital, termasuk media sosial dan situs e-commerce khusus, membuat produk halal lebih mudah diakses oleh khalayak global. Tren ini semakin dipercepat oleh penggunaan teknologi verifikasi, yang memungkinkan konsumen untuk langsung memeriksa status halal suatu produk.


Tren-tren yang teridentifikasi akan sangat membentuk arah industri halal pada tahun 2026, khususnya dalam hal bahan dan teknologi. Konsumen lebih proaktif dalam meneliti bahan-bahan. 


Preferensi produk tidak hanya bergantung pada khasiat, tetapi juga transparansi dan ketertelusuran. Mulai dari label yang dapat dilacak secara digital pada produk hingga alat berbasis AI untuk menyaring rekomendasi produk, yang kebutuhan utamanya adalah mendapatkan analisis dan rekomendasi produk yang dipersonalisasi dan sesuai dengan gaya hidup halal.


Salah satu contohnya adalah Ilmu Mikrobioma. Rhadeya Setiawan, Chief of Scientific and Regulatory Affairs, L’Oréal Indonesia, menerangkan bahwa pihaknya berfokus pada kesehatan dan kesejahteraan kulit. Hal ini selaras dengan prinsip-prinsip kecantikan holistik. 


Pengembangan solusi perawatan kulit yang dipersonalisasi berdasarkan analisis mikrobioma, seperti L’Oréal Cell BioPrint, menawarkan pendekatan canggih untuk memenuhi beragam kebutuhan konsumen.


Poin berikutnya adalah inovasi ilmiah, di mana teknologi digunakan untuk mengembangkan formulasi produk yang memenuhi kebutuhan segmen konsumen ini. Di bidang ini, L’Oréal tidak hanya mempersiapkan tetapi juga merangkulnya dalam inovasi ilmiah kami. Misalnya, komitmen L’Oréal terhadap Ilmu Hijau dan Keberlanjutan.


“Kami berkomitmen pada transformasi berkelanjutan, dengan tujuan untuk mendapatkan lebih dari 75% bahan dari alam (seperti sumber tanaman atau mineral) atau dari bahan daur ulang dalam formula pada tahun 2030. Hal ini sejalan dengan prinsip halal, yang menekankan bahan-bahan alami dan murni,” terang Rhadeya dikutip dari laman Halal MUI, Rabu (25/2/2026).


Beradaptasi dengan Perubahan Perilaku Konsumen


Perusahaan mengamati dan beradaptasi dengan cermat terhadap pergeseran signifikan dalam perilaku dan harapan konsumen Muslim, di antaranya:


• Permintaan akan Keaslian dan Kepercayaan: Konsumen lebih berpendidikan dan cerdas. Mereka tidak lagi menerima sertifikasi halal begitu saja, tetapi mencari jaminan yang lebih mendalam mengenai seluruh rantai nilai. Mereka mencari merek yang autentik dan transparan dalam komunikasinya.


• Kecerdasan dan Keterlibatan Digital: Konsumen Muslim sangat aktif di platform digital dan media sosial. Mereka menggunakan saluran ini untuk meneliti produk, berbagi pendapat, dan terhubung dengan merek. Perusahaan yang dapat berinteraksi secara efektif dengan konsumen Muslim di platform ini akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan.


Rhadeya melihat beberapa tren utama yang membentuk cara orang memilih produk kecantikan saat ini. Pertama, keberlanjutan menjadi fokus utama konsumen muda, terutama generasi Z, sangat peduli dengan pilihan yang dapat diisi ulang dan ramah lingkungan. “Hal ini terkait langsung dengan apa yang ada di pasar: budaya isi ulang, kemasan sirkular, dan formula yang lebih ramah lingkungan sudah menjadi bagian dari rencana kami, termasuk di Indonesia,” ungkapnya.


Sebuah studi oleh IDN Times mengungkapkan bahwa 86% konsumen Gen-Z menunjukkan minat pada produk berkelanjutan. Selain itu, 90% konsumen berusia 18-24 tahun bahkan bersedia membayar lebih untuk produk isi ulang dan berkelanjutan. Tren kecantikan berkelanjutan ini sejalan dengan L’Oréal For The Future, komitmen keberlanjutan L’Oréal Groupe untuk tahun 2030.


Kedua, personalisasi menjadi pendorong besar dalam dunia kecantikan. Banyak pengguna perawatan kulit perlu bereksperimen sebelum menemukan produk yang paling sesuai untuk mereka. Dengan hadirnya alat berbasis AI, rekomendasi produk kini bisa disesuaikan secara lebih akurat dengan kebutuhan individu, memberikan pengalaman yang lebih tepat dan relevan.


L’Oréal menjadi salah satu pelopor dalam Beauty Tech, menghadirkan serangkaian alat canggih yang memadukan teknologi dan pemahaman terhadap perilaku konsumen. Salah satunya adalah La Roche-Posay Effaclar Spotscan+, alat analisis kulit berbasis AI yang telah divalidasi oleh Perdoski (Perhimpunan Dermatologi dan Venereologi Indonesia). Alat ini mampu menilai tingkat keparahan jerawat dan merekomendasikan rutinitas perawatan kulit yang dipersonalisasi untuk setiap pengguna.


“Perusahaan beradaptasi dengan perubahan dengan cara yang berbeda—beberapa fokus pada inovasi produk, yang lain pada peningkatan rantai pasokan, upaya keberlanjutan, atau keterlibatan digital dengan konsumen. Di L’Oréal Indonesia, kami melihat tren ini—khususnya regulasi halal, dorongan keberlanjutan, dan transformasi digital—sebagai kekuatan yang membentuk masa depan kecantikan di sini,” terang Rhadeya.


Dengan pengalaman 46 tahun di Indonesia dan dukungan manufaktur lokal melalui pabrik Yasulor, perusahaan terus memperkuat komitmen terhadap kualitas, inklusivitas, dan pengembangan talenta lokal. Namun, adaptasi rantai pasok halal dan berkelanjutan juga menghadirkan tantangan besar.


“Rantai pasok global yang kompleks, ketergantungan 80% bahan baku impor, serta belum matangnya ekosistem bahan halal non-pangan menjadi hambatan nyata. Selain itu, biaya sertifikasi, audit, teknologi, serta pengembangan kapasitas pemasok global membutuhkan investasi besar,” tegasnya.


Tantangan lainnya, lanjut Rhadeya, belum adanya harmonisasi standar halal global dan pengakuan timbal balik sertifikat halal antar lembaga halal internasional. Kondisi ini membuat perusahaan harus membangun sistem kepatuhan dari nol di banyak negara.


Meski demikian, arah transformasi sudah jelas. Industri kecantikan tidak lagi hanya berbicara tentang estetika, tetapi tentang nilai, etika, keberlanjutan, dan tanggung jawab sosial. Dalam ekosistem baru ini, halal tidak hanya menjadi standar religius, tetapi menjadi simbol kualitas, kepercayaan, dan keberlanjutan global. 


ChatGPT bilang:

ZONAHALAL.ID, JAKARTA –


Meningkatnya gaya hidup halal yang kini melampaui sektor makanan dan merambah ke berbagai produk serta layanan—seperti kosmetik, farmasi, fesyen, hingga pariwisata—diproyeksikan menjadi tren utama industri halal Indonesia pada 2026.


Pendekatan holistik yang dikenal sebagai “gaya hidup halal” mencerminkan tuntutan konsumen terhadap produk yang tidak hanya diperbolehkan secara syariat, tetapi juga bermanfaat, bersih, sehat (halalan thayyiban), serta diproduksi secara bertanggung jawab.


Transformasi Digital dan E-Commerce

Salah satu tren yang diperkirakan menguat adalah transformasi digital dan pertumbuhan e-commerce halal. Pasar ini mengalami peningkatan pesat dan diproyeksikan terus tumbuh signifikan. Kehadiran platform digital, media sosial, serta situs e-commerce khusus membuat produk halal semakin mudah diakses oleh pasar global.


Perkembangan ini turut dipercepat oleh teknologi verifikasi yang memungkinkan konsumen memeriksa status halal produk secara langsung. Konsumen pun semakin proaktif meneliti bahan, transparansi, serta ketertelusuran produk sebelum membeli.


Mulai dari label digital yang dapat dilacak hingga alat berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menyaring rekomendasi produk, kebutuhan utama konsumen kini adalah analisis dan rekomendasi yang dipersonalisasi sesuai gaya hidup halal.


Inovasi Sains dan Personalisasi

Salah satu contoh perkembangan ini adalah pemanfaatan ilmu mikrobioma. Rhadeya Setiawan, Chief of Scientific and Regulatory Affairs L’Oréal Indonesia, menjelaskan bahwa perusahaan berfokus pada kesehatan dan kesejahteraan kulit sebagai bagian dari prinsip kecantikan holistik.


Pengembangan solusi perawatan kulit berbasis analisis mikrobioma, seperti L’Oréal Cell BioPrint, menawarkan pendekatan yang lebih canggih dan personal untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang beragam.


Selain itu, inovasi ilmiah juga diwujudkan melalui komitmen terhadap Ilmu Hijau dan keberlanjutan.


“Kami berkomitmen pada transformasi berkelanjutan, dengan target lebih dari 75% bahan formula berasal dari sumber alami atau bahan daur ulang pada 2030. Hal ini sejalan dengan prinsip halal yang menekankan bahan alami dan murni,” ujar Rhadeya.


Komitmen tersebut selaras dengan program L’Oréal Groupe melalui inisiatif L’Oréal for the Future 2030.


Perubahan Perilaku Konsumen Muslim

Perusahaan juga mengamati sejumlah pergeseran signifikan dalam perilaku konsumen Muslim, antara lain:


1. Permintaan akan Keaslian dan Kepercayaan

Konsumen kini lebih teredukasi dan kritis. Mereka tidak lagi sekadar menerima label halal, tetapi menuntut transparansi menyeluruh atas rantai nilai produk. Merek yang autentik dan terbuka dalam komunikasi memiliki keunggulan kompetitif.


2. Kecerdasan dan Keterlibatan Digital

Konsumen Muslim sangat aktif di platform digital untuk meneliti, berbagi ulasan, dan berinteraksi dengan merek. Perusahaan yang mampu membangun keterlibatan digital secara efektif akan lebih unggul di pasar.


Rhadeya juga menyoroti meningkatnya perhatian generasi muda, khususnya Gen Z, terhadap isu keberlanjutan. Budaya isi ulang, kemasan sirkular, dan formula ramah lingkungan menjadi bagian penting dari strategi perusahaan, termasuk di Indonesia.


Studi IDN Times menunjukkan 86% konsumen Gen Z tertarik pada produk berkelanjutan, dan 90% konsumen usia 18–24 tahun bersedia membayar lebih untuk produk isi ulang yang ramah lingkungan.


Dalam aspek personalisasi, teknologi AI semakin berperan penting. L’Oréal menjadi salah satu pelopor Beauty Tech melalui berbagai inovasi digital. Salah satunya adalah La Roche-Posay Effaclar Spotscan+, alat analisis kulit berbasis AI yang telah divalidasi oleh Perhimpunan Dermatologi dan Venereologi Indonesia (Perdoski). Teknologi ini mampu menilai tingkat keparahan jerawat dan merekomendasikan rutinitas perawatan yang dipersonalisasi.


Tantangan dan Transformasi

Dengan pengalaman 46 tahun di Indonesia serta dukungan manufaktur lokal melalui pabrik Yasulor, perusahaan terus memperkuat komitmen terhadap kualitas, inklusivitas, dan pengembangan talenta lokal.


Namun, adaptasi terhadap rantai pasok halal dan berkelanjutan tidak tanpa tantangan. Kompleksitas rantai pasok global, ketergantungan hingga 80% pada bahan baku impor, serta belum matangnya ekosistem bahan halal non-pangan menjadi hambatan nyata.


Selain itu, biaya sertifikasi, audit, pengembangan teknologi, serta investasi dalam peningkatan kapasitas pemasok global juga cukup besar. Tantangan lainnya adalah belum adanya harmonisasi standar halal global serta pengakuan timbal balik sertifikat halal antarnegara.


Meski demikian, arah transformasi industri kecantikan semakin jelas. Industri ini tidak lagi hanya berbicara soal estetika, melainkan juga nilai, etika, keberlanjutan, dan tanggung jawab sosial. Dalam ekosistem baru tersebut, halal tidak sekadar standar religius, tetapi telah menjadi simbol kualitas, kepercayaan, dan keberlanjutan global.